YOGYAKARTA, Berita12.com — Dunia sudah bergeser, cara seorang memutar roda ekonomi pun demikian. Perputaran roda ekonomi yang awalnya dilakukan dengan otot, kini diputar dengan otak atau akal.
Dalam teori ekonomi situasi itu disebut sebagai Knowledge Based Economy, atau ekonomi yang dasarnya adalah ilmu. Kenyataan itu menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, kunci meraih sukses dunia dan akhirat adalah ilmu.
Ilmu sebagai kunci meraih kesejahteraan dunia dan akhirat, katanya, selaras dengan perkataan yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib. Faktanya, orang yang sukses bekerja untuk kesejahteraan dunia banyak yang mengoptimalkan kecerdasan otak.
“Dulu orang berjualan itu dengan memikul barang dagangannya. Sekarang orang berjualan cuma mengunggah saja produk yang dijual itu. Tidak perlu dibawa ke mana-mana,” kata Abdul Mu’ti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Selasa (24/2/2026).
Sebaliknya, jika seorang tidak memiliki penguasaan teknologi, maka potensi atau peluang untuk kesejahteraan atau pendapatan di bidang ekonomi semakin mengecil. Karena mereka mengalami stagnasi.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang kaya, menurutnya diperlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi, sehingga sumber daya alam itu dapat dikelola dengan sebaiknya.
Selain sebagai bangsa, Mendikdasmen RI ini juga mendorong kecerdasan personal bangsa Indonesia. Kemampuan atau kecakapan yang dimiliki orang-orang dalam bangsa akan berpengaruh dan menjadi kunci kemajuan bangsa itu.
Sementara, dalam konteks yang lebih filosofis, sebagaimana yang disampaikan oleh Abdullah Nashih Ulwan, bahwa yang disebut sebagai yatim itu bukan mereka yang tidak berbapak dan beribu, tapi mereka adalah yang tidak berilmu.
“Karena kalau orang tidak punya ilmu, dia bergantung kepada orang lain – dependent on others. Tetapi kalau dia berilmu, maka dia menjadi orang yang kuat,” kata dia.
(Berita12)












