Klaten, Berita12.com — Agama Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad bagi Muhammadiyah diyakini menjadi satu mata rantai dari dan dengan ajaran yang dibawah para nabi-nabi pendahulu.
Penegasan itu disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada dalam agenda Darul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Klaten.
Kesatuan mata rantai ajaran agama Islam yang dibawah Nabi Muhammad, katanya, harus menjadi keyakinan yang utuh bagi warga Muhammadiyah. Oleh karena itu tidak perlu mempertentangkan kitab-kitab suci sebelumnya.
Meskipun demikian, menurut Haedar tidak boleh kemudian atas dasar toleransi mencampuradukkan berbagai ajaran. Sebab meski kitab-kitab suci turun dalam satu mata rantai dan bersubstansi sama, tapi di kemudian hari dari ajaran-ajaran tersebut ada penambahan maupun pengurangan.
Pada kesempatan itu Haedar Nashir juga menegaskan, praktik ibadah yang dijalankan oleh Muhammadiyah berdasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah – dengan menggunakan perspektif Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
“Dalam hal ibadah kita tetap berpokok pada ajaran Rasulullah, tidak nambah dan tidak kurang. Dan itu di era modern jauh lebih efisien,” katanya dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Jumat (9/1/2026).
Haedar menjelaskan, beribadah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad relevan dan efisien dilakukan pada era modern karena tidak tercampur dengan ritual-ritual lain – yang di luar ibadah utama.
Dia mencontohkan, ketika salat berjemaah sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad. Salat dengan khusyu – takbiratul ihram sampai salam, dilanjutkan dengan zikir, lalu fantasyiru fil ardh atau bertebaran di muka bumi.
Di sisi lain, Haedar mengingatkan tidak boleh dengan alasan efisiensi ibadah salat diplesetkan atau dicepat-cepatkan. Salatnya warga Muhammadiyah harus tetap khusyu dan penuh penghayatan.
Maka meskipun jumlah rakaat salat tarawih di masjid-masjid Muhammadiyah itu sebelas rakaat, tetap dilakukan dengan khusyu dan penuh penghayatan. Tidak boleh salat mengejar cepat sehingga grasak-grusuk.
Selain dalam praktik salat, ajaran Nabi Muhammad yang diimplementasikan Muhammadiyah adalah etos ilmu untuk menghitung peredaran bulan dan bumi mengelilingi matahari.
Haedar menampik anggapan yang menyatakan bahwa Muhammadiyah tidak sesuai ajaran Nabi Muhammad ketika menentukan awal bulan – termasuk Bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Ajaran Nabi Muhammad yang diterapkan oleh Muhammadiyah termasuk dalam akhlak. Haedar menjelaskan, akhlak yang digunakan oleh Muhammadiyah berpatokan pada Nabi Muhammad bukan akhlak situasional. Dengan prinsip ini, tentu konsekuensinya adalah tantangan situasi zaman yang terus dinamis.
(Berita12)






