JAKARTA, Berita12.com — Laporan dari World Meteorological Organization (WMO) dan badan antariksa NASA mengatakan bahwa secara konsisten tren yang perlu dicermati bersama saat ini adalah dikeluarkannya laporan State of the Global Climate 2025 yang mengkonfirmasi bahwa suhu permukaan bumi terus berada dalam tren meningkat. Hal ini ungkapkan oleh Deputi Komisioner Pengaturan Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan, Deden Firman Hendarsyah dalam Kegiatan Sustainable Finance Fest “Finance for Future: Giving the Green Shift a Lift” di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Deden menuturkan dampak dari isu sudah dirasakan secara semenjak ada siklon tropis Seroja di Sumatera Utara tahun lalu yang membawa curah hujan ekstrem ke wilayah utara Sumatera memicu banjir bandang, kemudian banjir bandang yang menelan lebih dari 800 korban jiwa.
“Tentunya kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, risiko itu sekarang sudah ada di hadapan mata kita. Oleh karena itu kami melihat bahwa di tahun 2026. WMO yang menunjukkan bahwa terdapat peluang sebesar 80% temperatur bumi akan melampaui ambang batas 1,5 derajat celcius dan kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena Godzilla El Nino,” ungkap Deden.
Anomali tersebut diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau, mengeringkan waduk-waduk dan mengancam ketahanan pangan nasional secara sistemik.
“Apabila perubahan iklim tidak dimitigasi secara serius. Tentunya temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan semata isu lingkungan namun telah berkembang menjadi risiko ekonomi, risiko keuangan yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan secara fundamental,” tuturnya.
Oleh karena itu di tahun 2024, OJK telah menerbitkan panduan Climate Risk Management and Scenario Analysis atau CRMS. CRMS ini untuk sektor perbankan. Dirancang bukan sekadar sebagai alat analisis teknis, melainkan sebagai central policy hub. Sebagai kerangka kebijakan menyeluruh yang menjadi fondasi bagi bank dalam mengintegrasikan dimensi iklim ke dalam tata kelola, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan alokasi pembiayaan.
“Dengan kebijakan ini OJK memandang sangat penting dan mendesak untuk membangun manajemen risiko iklim dan strategi transisi yang berbasis data dan terukur ke dalam strategi bisnis pembiayaan perbankan yang selaras dengan arah kebijakan nasional maupun komitmen internasional,” kata Deden.

Selanjutnya Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae turut menambahkan Fenomena El Nino yang terjadi saat ini, dan perkirakan sampai Oktober, akan memicu kemarau yang lumayan cukup panjang tahun ini.
“Hal ini memicu kemarau di Indonesia yang mungkin akan membawa akibat-akibat ikutan seperti kekeringan, kekurangan air bersih, dan sebagainya. Dan kita tahu bahwa kondisi ini diperburuk dengan intinya emisi karbon dari berbagai sektor, emisi gas rumah kaca, pembangkit listrik energi batu bara yang masih sebagian besar, deforestasi, dan juga aktivitas industri,” jelas Victoria.
Victoria mengatakan, karena pada saat ini musim pun sudah berubah dari modeling-modeling yang dilakukan oleh climate scientist, CSO juga bergerak karena perubahan suhu yang digerakkan oleh climate change.
“Kegiatan Sustainable Finance Fest ini hadir karena kami percaya bahwa sebetulnya transisi menuju ekonomi hijau tidak bisa dilakukan sendirian, dan tidak hanya oleh pemerintah atau sektor keuangan saja. Jadi perlu ada ekosistem yang saling mendukung,” pungkasnya.
Turut hadir sebagai pembicara Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 Bursa Efek Indonesia, Ignatius Denny Wicaksono dan Direktur Keuangan Berkelanjutan, Otoritas Jasa Keuangan, R. Joko Siswanto.
(Berita12)






