JAKARTA, Berita12.com — Sangat mudah bagi kita untuk terjebak pada gagasan bahwa “kemajuan” sebuah kota hanya diukur dari apa yang bisa dilihat oleh mata, padahal pengalaman manusia jauh lebih kaya dari itu. Ini menunjukkan bagaimana tata kota modern sering kali kehilangan “jiwa”-nya. Hal ini disampaikan Inisiator Platform Melihat Kota, Rizzah Aulifia dalam Diskusi Publik Jelang Lima Abad Jakarta “Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota yang Bersih dan Ramah Lingkungan” di Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).
Ia mengungkapkan bahwa estetika kota saat ini terlalu berfokus pada infrastruktur keras (beton, jalanan, gedung pencakar langit) dan elemen visual semata. Karena hanya mengandalkan indra penglihatan, kota menjadi kurang dapat dinikmati secara menyeluruh oleh warganya.
“Padahal, pengalaman sensorik manusia juga mencakup pendengaran, penciuman, hingga perabaan,” ungkap Rizzah.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan Multisensori yang melibatkan seluruh indra, filosofi perkotaan kontemporer mulai menyadari bahwa estetika harus mencakup suara (auditori) dan bau (olfaktori).
“Bali menjadi contoh kuat bagaimana estetika perkotaan bisa sangat inklusif. Tidak hanya secara visual melalui arsitektur tradisionalnya, tetapi juga secara penciuman seperti aroma dupa dari ritual ibadah harian yang rutin dilakukan masyarakatnya. Sejarah menunjukkan bahwa kota-kota lama hidup berdampingan dengan alam, ritual keagamaan, dan tradisi,” ujarnya.
Menurut Rizzah, dorongan sekularisasi memisahkan ruang publik dari elemen spiritual dan alamiah. Dampaknya, kota-kota modern menjadi kering dan membuat warganya merasa detached (terasing) dari hal-hal yang sebenarnya bisa memberikan ketenangan batin.
Selanjutnya Tenaga Ahli Gubernur Pemprov DKI Jakarta, Fariz Egia Gamal yang turut hadir menjelaskan tentang penurunan muka tanah di Jakarta akibat eksploitasi air tanah. Penurunan tanah alami hanya sekitar 14 mm per tahun. Namun, akibat eksploitasi air tanah, penurunannya bisa melonjak drastis hingga 15 cm per tahun, terutama di wilayah Jakarta Utara.
“Wilayah Jakarta Utara memiliki karakteristik tanah yang lunak karena terbentuk dari endapan lumpur selama berabad-abad. Karena tanahnya yang lunak, pembangunan MRT Fase 2 memakan waktu lebih lama. Prosesnya harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak amblas atau hancur,” jelas Fariz.
Ia menuturkan bahwa Pemerintah DKI Jakarta sudah mengeluarkan regulasi ketat sejak tahun 2021 tentang bangunan komersial atau apartemen dengan luas bangunan 5.000 meter persegi ke atas secara tegas dilarang menggunakan air tanah.
“Untuk memantau pelanggaran ini, pemerintah daerah memanfaatkan teknologi citra satelit guna mendeteksi gedung-gedung besar yang masih bandel menyedot air tanah,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa isu Jakarta tenggelam semata-mata karena global warming (pemanasan global) tidak sepenuhnya tepat. Faktor pendorong utama yang paling agresif justru adalah kosongnya rongga bawah tanah akibat penyedotan air tanah dalam secara masif, yang diperparah oleh struktur tanah Jakarta Utara yang rapuh, sehingga memicu amblesan permukaan kota.
(Berita12)












