MAMASA, Berita12.com — Suasana halaman Gedung DPRD Kabupaten Mamasa, Senin (1/9), dipenuhi suara lantang mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus. Mereka menggelar aksi demonstrasi menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang dianggap telah mengkhianati kepentingan rakyat.
“Kami melihat DPR sudah tidak lagi menjadi rumah rakyat, melainkan lembaga yang mengkhianati kepentingan rakyat. Karena itu, kami mendesak agar DPR dibubarkan,” teriak salah satu orator.
Para demonstran menyoroti sejumlah kebijakan DPR yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Mereka menyinggung tragedi tewasnya seorang pengemudi ojek online dalam aksi di Jakarta beberapa waktu lalu, yang disebut akibat tindakan represif aparat. Massa juga menilai DPR gagal bersuara atas kebijakan pemerintah pusat, termasuk kenaikan pajak yang dinilai membebani rakyat.
“Jika DPR terus diam, maka rakyat tidak punya lagi alasan untuk mempercayai mereka. Rakyat harus ambil alih kedaulatan,” tambah seorang mahasiswa dalam orasinya.
Sepuluh Tuntutan Aksi
Dalam aksinya, massa Aliansi Cipayung Plus membacakan sepuluh poin tuntutan, di antaranya:
- Reformasi Polri
- Tolak kenaikan tunjangan DPR
- Tolak kenaikan PBB Pedesaan dan Perkotaan (PP)
- Segera sahkan RUU Perampasan Aset
- Mendesak pimpinan partai mengevaluasi kinerja anggota DPR RI, DPRD Provinsi, hingga DPRD Kabupaten
- Menagih janji pemerintah daerah terkait pembangunan TPA
- Transparansi pengawasan inspektorat terhadap dana desa se-Kabupaten Mamasa
- Usut tuntas kasus kematian pasangan suami-istri di Kecamatan Aralle
- Mendesak DPRD memperjelas penggunaan dana daerah tertinggal (Dacil) di Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa
- Mendesak aparat penegak hukum menindaklanjuti dugaan temuan KPK di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mamasa terkait anggaran Rp5 miliar
Situasi Kondusif
Meski penuh dengan seruan keras dan kritik tajam, aksi demonstrasi berlangsung aman dan tertib. Ratusan aparat gabungan dari TNI, Polri, hingga Satpol PP terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan keamanan.
Hingga aksi berakhir, tidak terjadi bentrokan antara massa dan aparat.
(Berita12)






