Ekspor Inggris Terancam Boncos Rp443,4 Triliun Jika Tarif AS Naik

London – Ekspor Inggris berada di ujung tanduk, dengan potensi kerugian hingga £22,5 miliar atau setara dengan Rp443,4 triliun jika Amerika Serikat menaikkan tarif impor. Ancaman tersebut datang seiring dengan ketegangan politik dan kebijakan proteksionis yang didorong oleh Donald Trump.

Dalam pidatonya baru-baru ini, Trump mengindikasikan akan menaikkan tarif untuk negara-negara yang dianggap mengambil keuntungan dari hubungan perdagangan dengan AS, termasuk Inggris.

Langkah ini bisa menjadi pukulan telak bagi ekonomi Inggris, yang sudah menghadapi tantangan besar setelah Brexit dan gejolak ekonomi global pasca-pandemi. Sektor manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekspor Inggris ke AS, kemungkinan besar akan merasakan dampak paling signifikan.

Barang-barang seperti mobil, mesin, dan produk kimia berisiko terjebak dalam tarif yang lebih tinggi, yang akan membuat mereka lebih mahal dan kurang kompetitif di pasar Amerika.

Baca juga: Ancaman Tarif Trump Bayangi Negara-negara Asia, Perdagangan Global Terancam

Reaksi dari Pemerintah dan Pelaku Bisnis

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menyatakan kekhawatiran yang mendalam terhadap ancaman ini, mengingat AS adalah salah satu mitra dagang terbesar Inggris.

“Kami berharap untuk terus membina hubungan perdagangan yang saling menguntungkan dengan Amerika Serikat, tetapi kami juga harus bersiap untuk segala kemungkinan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan dari asosiasi eksportir Inggris mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan sudah mulai merencanakan langkah mitigasi, termasuk mencari pasar alternatif di Eropa dan Asia. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat tetap menjadi pasar yang sangat penting.

“Kenaikan tarif ini akan menekan margin keuntungan banyak perusahaan, dan pada akhirnya dapat menyebabkan pemangkasan tenaga kerja,” kata seorang pejabat asosiasi.

Dampak Ekonomi Lebih Luas

Ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat menambah beban ekonomi Inggris, yang baru saja mengalami pemulihan lambat dari tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga.

Jika ekspor Inggris merosot tajam, hal ini bisa memperparah defisit perdagangan, menekan poundsterling, dan membuat harga-harga di dalam negeri lebih mahal.

Di sisi lain, Gedung Putih belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis barang yang akan dikenakan tarif baru atau tingkat kenaikan yang direncanakan.

Namun, para pengamat perdagangan internasional menilai bahwa ancaman ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menekan negara-negara yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi Amerika Serikat.

Dunia bisnis kini menunggu dengan penuh ketidakpastian, dan semua mata tertuju pada perkembangan berikutnya yang bisa menentukan arah perdagangan antara kedua negara dalam waktu dekat.

Keberlanjutan hubungan ekonomi Inggris-AS akan sangat bergantung pada hasil perundingan yang mungkin digelar dalam waktu dekat.

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed