Bandung, Berita12.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya etos kemajuan, disiplin organisasi, dan pemberdayaan ekonomi umat dalam Pengajian Bersama Ketum PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Minggu (17/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Haedar mengaku senang dapat kembali hadir di kampus UM Bandung setelah sebelumnya menghadiri rangkaian Milad ke-113 Muhammadiyah. Ia menyampaikan apresiasi kepada Rektor UM Bandung atas berbagai capaian yang telah diraih, sekaligus memotivasi seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah di Jawa Barat untuk terus berlomba menghadirkan keunggulan.
Menurutnya, UM Bandung tidak boleh merasa tertinggal di tengah kompetisi perguruan tinggi yang semakin ketat. Ia juga menilai kepemimpinan Ahmad Dahlan di lingkungan PWM Jawa Barat telah menghadirkan optimisme dan inspirasi baru bagi kemajuan persyarikatan di wilayah tersebut.
Haedar kemudian menekankan bahwa salah satu kunci kemajuan organisasi terletak pada disiplin yang kuat. Ia mengingatkan agar Muhammadiyah tidak mudah tergoda oleh program-program baru yang tampak menjanjikan namun belum dikaji secara matang.
Menurutnya, budaya permisif seperti “teu nanaon”, “teu sawios”, dan “mangga atuh” dapat menjadi celah munculnya persoalan dalam organisasi. Sikap sungkan atau rasa segan kepada pihak tertentu, lanjutnya, juga tidak boleh membuat warga persyarikatan membiarkan kekeliruan terjadi.
“Kalau salah harus dikoreksi. Jangan karena segan lalu organisasi menjadi longgar,” tegasnya dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Minggu (17/5/2026).
Dalam pengajian itu, Haedar juga menyoroti pentingnya membangun etos kemajuan sebagaimana spirit Fastabiqul Khairat dalam Surah Al-Baqarah ayat 148. Ia menjelaskan bahwa berlomba dalam kebaikan bukan sekadar memahami ajaran agama secara tekstual, melainkan menghadirkan pengamalan Islam yang luas dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Mengutip pandangan Ibnu Abbas, ia menjelaskan bahwa umat Islam dituntut untuk taat pada risalah agama sekaligus aktif menghadirkan manfaat sosial. Karena itu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus tampil sebagai organisasi yang memberi solusi di tengah masyarakat, mulai dari tingkat pusat hingga ranting.
“Menjadi Khairu Ummah itu berarti menjadi umat yang paling bermanfaat bagi manusia,” ujarnya.
Haedar juga menegaskan bahwa Muhammadiyah harus menjadi Syuhada ‘alan-nas, yakni saksi bagi umat manusia yang hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan. Menurutnya, Muhammadiyah harus berada di garis depan saat terjadi bencana, membantu kelompok marginal, serta menjadi peredam konflik ketika bangsa membutuhkan jalan keluar.
Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak cukup hanya besar secara jumlah, tetapi juga harus unggul, berdaya saing, dan memiliki dampak nyata. Sebagai ilustrasi, Haedar menyinggung bagaimana kelompok Yahudi yang jumlahnya relatif kecil mampu memiliki pengaruh global karena penguasaan ekonomi dan teknologi.
“Siapa yang menguasai ekonomi, pada akhirnya akan memengaruhi politik,” katanya.
Karena itu, ia mendorong Muhammadiyah untuk membangun mindset baru dalam pemberdayaan ekonomi umat. Haedar menilai Majelis Ekonomi memiliki posisi yang sama pentingnya dengan Majelis Tabligh, sebab kehidupan umat tidak hanya berkaitan dengan ibadah spiritual, tetapi juga menyangkut kemandirian ekonomi.
Terkait isu pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah yang sempat menjadi perhatian publik, Haedar menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara rasional dan telah mendapatkan dukungan dari berbagai wilayah. Ia memastikan pengelolaan nantinya dilakukan secara profesional oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya demi kemaslahatan umat.
Menutup pengajiannya, Haedar menekankan bahwa kesuksesan organisasi tidak dapat diraih secara instan. Ia menyebut kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan sebagai tiga kunci utama keberhasilan dalam persyarikatan.
Menurutnya, para pimpinan dan rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Jawa Barat harus memiliki semangat bekerja sungguh-sungguh, tahan menghadapi berbagai tantangan, serta menjaga semangat gotong royong atau “rereongan”.
Haedar optimistis, apabila semangat itu terus dijaga, dalam lima tahun ke depan Muhammadiyah Jawa Barat akan mencapai kemajuan besar dan semakin berpengaruh di tengah masyarakat.
(Berita12)












