JAKARTA, Berita12.com — Sekitar 300 mitra investor dan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari berbagai wilayah Indonesia berkumpul di Jakarta dalam “Apel Menagih Janji BGN”. Mereka datang dari Sabang hingga Merauke untuk meminta kepastian setelah lebih dari delapan bulan menunggu kejelasan atas SPPG yang telah dibangun dan dipersiapkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Umum Asosiasi Pangan Gizi Indonesia Wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (APGI 3T), Herwil Junaidi Harefa, mengatakan kedatangan ratusan mitra ke Jakarta merupakan bentuk penyampaian aspirasi secara terbuka dan konstruktif kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ini bukan gerakan untuk melawan pemerintah. Kami datang sebagai mitra. Kami sudah membangun, sudah menyiapkan fasilitas, sudah mengeluarkan modal, dan sudah menunggu lebih dari delapan bulan. Hari ini kami hanya ingin satu hal: kepastian,” kata Herwil Rabu (25/8/2026).
Menurut Herwil, persoalan yang dihadapi mitra bukan sekadar persoalan administratif. Ketidakjelasan operasional membuat investasi, fasilitas, tenaga kerja, dan persiapan yang telah dilakukan para mitra berada dalam kondisi tidak pasti.
“Bangunannya ada. Peralatannya ada. Orang-orangnya sudah disiapkan. Tetapi kapan beroperasi, bagaimana mekanismenya, dan apa dasar hukumnya, semuanya harus jelas. Mitra tidak boleh terus dibiarkan menggantung,” tegasnya.
TIGA HAL YANG DITAGIH
Herwil menyebut ada tiga hal utama yang ingin mendapatkan jawaban dari BGN.
Pertama, kepastian kapan SPPG yang telah memenuhi persyaratan dapat beroperasi.
Kedua, kepastian mengenai mekanisme dan waktu penyelesaian kewajiban para mitra.
Ketiga, kepastian regulasi dan petunjuk teknis agar mitra memiliki dasar yang jelas dalam menjalankan SPPG.
“Kalau ada persyaratan, sampaikan secara terbuka. Kalau ada yang harus diperbaiki, kami siap memperbaiki. Kalau ada kewajiban yang harus diselesaikan, jelaskan mekanismenya. Yang kami tidak bisa terima adalah ketidakpastian yang terus berlarut,” ujar Herwil.
Ia menegaskan, APGI 3T tidak meminta perlakuan khusus. Para mitra hanya meminta hubungan kemitraan dibangun berdasarkan kepastian, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.
“Delapan bulan bukan waktu yang singkat. Bagi mitra, itu berarti modal tertahan, bangunan harus terus dirawat, peralatan terus mengalami penyusutan, dan tenaga yang sudah disiapkan tetap menunggu,” kata Herwil.
Herwil berharap BGN merespons kedatangan para mitra dengan dialog terbuka dan keputusan konkret.
“Kami tidak datang untuk meminta janji baru. Kami datang untuk menagih kepastian atas apa yang sudah kami tunggu lebih dari delapan bulan. Kami ingin menjadi bagian dari keberhasilan MBG, tetapi kemitraan harus dibangun dengan kepastian,” tegas Herwil.
APGI 3T memastikan tetap membuka ruang dialog dengan BGN untuk mencari penyelesaian terbaik bagi seluruh pihak.
Bagi Herwil, kedatangan sekitar 300 mitra ke Jakarta hari ini merupakan pesan yang sederhana namun tegas: para mitra sudah menjalankan bagian mereka dan kini menunggu negara memberikan kepastian.
“Jangan biarkan investasi masyarakat menjadi bangunan yang hanya berdiri. Kalau kita ingin MBG berhasil, semua pihak yang menjadi bagian dari program ini harus mendapatkan kepastian,” pungkasnya.
(Berita12)












