JAKARTA, Berita12.com — Indonesia secara konsisten mendukung pemenuhan target Global Methane Pledge menuju tahun 2030 untuk membatasi pelepasan gas metana ke atmosfer. Langkah ini disalurkan melalui GGFR (Global Gas Flaring Reduction), yang saat ini transformasinya mungkin lebih dikenal sebagai GFMR (Global Flaring and Methane Reduction). Hal ini dibahas dalam Forum “Strategi Penurunan Emisi Metana serta Praktik Keberlanjutan Perusahaan (SDG) di Sektor Energi”, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
“Perusahaan-perusahaan migas, termasuk major companies, saat ini sudah memberikan dukungan nyata dalam memangkas emisi gas metana. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan mereka ke dalam berbagai asosiasi, platform, maupun kemitraan (partnership) global, seperti: OGMP (Oil and Gas Methane Partnership) OGDC (Oil and Gas Decarbonization Charter),” ujar Subkoordinator Keteknikan Migas Ditjen Migas KESDM, Chitra Ria Ariska.
Ia mengatakan, Kementerian ESDM berkomitmen penuh untuk mencapai Zero Routine Flaring pada tahun 2030. Komitmen resmi ini telah disampaikan kepada World Bank melalui surat menteri yang pada saat itu ditandatangani oleh Menteri ESDM sebelumnya yakni Ignasius Jonan.
“Saat ini telah berlaku Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2021 mengenai Pengelolaan Gas Suar pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (Migas). Di dalam peraturan tersebut, terdapat pembatasan ketat untuk pembakaran gas suar, khususnya routine flaring, yang sejalan dengan komitmen nasional menuju Zero Routine Flaring pada tahun 2030,” jelasnya.
Deputi Chief Executive Officer IESR, Erina Mursanti juga mengungkapkan bahwa Industri minyak, gas, dan batu bara merupakan sektor kunci yang akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai target penurunan emisi.
“Kebocoran metana sejatinya adalah hilangnya energi yang memiliki nilai ekonomi. Menurunkannya berarti meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat tata kelola, dan menaikkan daya saing perusahaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan metana memiliki potensi pemanasan global 80 kali lipat lebih tinggi daripada karbon dioksida (CO_2) dalam periode 20 tahun. Penurunan emisi metana adalah langkah efektif untuk memperlambat laju pemanasan global dengan manfaat yang bisa dirasakan dalam hitungan tahun (bukan dekade, seperti pada pengurangan CO_2).
”Kami di IESR saat ini, sedang menyusun peta jalan mitigasi emisi metana di sektor energi yang berbasis pada transparansi data yang kredibel. Forum ini sebagai wadah untuk berbagi tantangan dan membangun solusi bersama,” kata dia.
(Berita12/Gbr)










