JAKARTA, Berita12.com — Kreativitas adalah proses yang menghasilkan produk (bisa barang atau jasa) baru yang dapat diterima sebagai sesuatu yang berguna dan bernilai. Karena apa yang dihasilkan dibutuhkan oleh pasar, dan berguna, bernilai bagi sekelompok dalam waktu tertentu. Ekonomi Kreatif lahir dari ide seseorang kemudian inovasi, produk, dan pasar produk. Hal ini dibahas dalam seminar dan talk show “Creative Economy: Dari Ide Kreatif Menjadi Bisnis Berkelanjutan” di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Rektor Institut Kesenian Jakarta, Prof. Dr. M. Syamsul Maarif menjelaskan Inovasi tidak cukup menjadi suatu bisnis berkelanjutan tanpa adanya networking. Jadi kuncinya ada di networking di dalam bisnis. Jadi ketika di dunia seni ini tidak ada networking, maka dia tidak akan menjadi berkelanjutan.
Menurutnya tidak akan adanya inovasi tanpa suatu pengetahuan terkait produk atau barang dan jasanya. Sehingga juga memerlukan knowledge management,tentang bagaimana mengelola pengetahuan terkait dengan produk itu.
“Jadi kalau mahasiswa kita ingin menjadi inovator, supaya kreativitasnya menjadi inovator, maka harus diajarin bagaimana dia menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebetulan IKJ ini adalah Institut Kesenian yang kuncinya itu adalah kreativitas. Dasarnya adalah kreativitas dan seharusnya menjadi suatu inovasi,” ujarnya.
Ia mengatakan, sekaya apa pun sumber daya Indonesia, kalau tidak memiliki ide, kreativitas, inovasi, talenta, dan kekayaan budaya. Maka itu hanya menjadi budaya saja.
“Ekonomi kreatif itu berasal dari kreativitas, keterampilan, inovasi, dan kekayaan intelektual. Jadi harus menjadi kekayaan intelektual dan menciptakan nilai. Dari individu ke bisnis, masyarakat ke ekonomi nasional. Jadi suatu kreativitas itu sumber daya, inovasi adalah kekuatan ekonomi kreatif masa yang akan datang,” tutur Syamsul.
Kemudian Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hj. Himmatul Aliyah, S.Sos., M.Si. yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan Indonesia harus optimis ketika terjun ke industri ekonomi kreatif.
“Tren pertumbuhan ekonomi kita saat ini 5,4% sampai 5,6%. Ya, meningkat dari tahun 2021 (3,70%), kemudian 2022 (5,31%), 2023 (5,05%), 2024 (5,03%), 2025 (5,11%), dan sekarang ini ada di posisi 5,6%. Jadi, ini tumbuh progresif ekonomi kita,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan kisaran 5,4% sampai 5,6% dengan ditopang percepatan program prioritas nasional yang berorientasi pada penguatan konsumsi domestik, pemberdayaan desa, serta penciptaan lapangan kerja.
Akademisi FSRD Untar, Praktisi Desain Furnitur, Riset Terapan, dan Creativepreneurship, Dr. Drs. Eddy Supriyatna Marizar, M.Hum., M.M juga menyoroti tantangan terbesar ekonomi kreatif. Menurutnya, masalah utama ekonomi kreatif bukanlah kurangnya ide atau inovasi, melainkan pengembangan pasar.
“Orang Indonesia dikenal sangat kreatif dan inovatif, namun sering kali memiliki kelemahan dalam hal memasarkan produk mereka sendiri. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) membuat lanskap kompetisi dan pasar menjadi jauh lebih luas, dinamis, sekaligus menantang.
Oleh karena itu, ia mengatakan solusinya adalah Kolaborasi nyata, yakni orang-orang kreatif tidak bisa berjalan sendiri; mereka wajib didampingi oleh tim atau orang pemasaran (marketing) yang andal.
“Bikin karya keren itu satu hal, tapi memastikan karya itu sampai ke tangan pembeli adalah urusan lain. Jawabannya cuma satu, orang kreatif harus dibantu orang pemasaran,” pungkasnya.






