Maduro di Pengadilan AS: “Saya Presiden Venezuela, Saya Tawanan Perang”

INTERNASIONAL153 Dilihat

New York, Berita12.com — Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk pertama kalinya muncul di hadapan pengadilan federal Amerika Serikat di New York, Senin, (5/1/2026) waktu setempat.

Dalam sidang awal tersebut, Maduro secara tegas menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan yang dialamatkan kepadanya, termasuk tuduhan narkoterorisme dan perdagangan narkoba.

Sidang berlangsung singkat namun sarat pernyataan kontroversial. Saat diminta mengonfirmasi identitasnya, Maduro memperkenalkan diri sebagai kepala negara Venezuela dan menyebut dirinya sebagai tawanan perang.

“Saya adalah Presiden Venezuela. Saya menganggap diri saya sebagai tawanan perang. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas,” kata Maduro di ruang sidang, sebelum hakim menghentikan pernyataannya.

Hakim Distrik AS Alvin K. Hellerstein kemudian meminta proses persidangan berjalan sesuai agenda dan menegaskan bahwa akan ada waktu tersendiri bagi Maduro untuk menyampaikan pandangannya.

Maduro juga mengaku baru pertama kali melihat dokumen dakwaan yang diajukan jaksa federal AS. Ia meminta waktu untuk mempelajarinya secara pribadi.

“Saya baru pertama kali memegangnya. Saya lebih memilih membacanya secara pribadi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dirinya belum memahami hak-haknya hingga sidang tersebut berlangsung.

Di hadapan hakim, Maduro kembali menegaskan penolakannya atas seluruh tuduhan.

“Saya tidak bersalah. Saya adalah orang yang terhormat,” katanya.

Hakim Hellerstein kemudian mengingatkan bahwa setiap pernyataan yang disampaikan terdakwa di ruang sidang dapat digunakan sebagai alat bukti. Tim penasihat hukum Maduro secara resmi mengajukan pembelaan not guilty atas seluruh dakwaan, termasuk untuk istri Maduro, Cilia Flores, yang juga menyatakan tidak bersalah.

Usai sidang, saat digiring keluar dari ruang pengadilan, Maduro kembali melontarkan pernyataan singkat dalam bahasa Spanyol.

“Saya adalah tawanan perang,” ujarnya, menurut laporan di lokasi.

Dalam perkembangan terbaru, Maduro kini diwakili oleh Barry Pollack, pengacara yang sebelumnya dikenal sebagai kuasa hukum pendiri WikiLeaks Julian Assange.

Pollack mendaftarkan diri sebagai penasihat hukum Maduro hanya beberapa saat sebelum sidang dimulai. Pengadilan menjadwalkan sidang lanjutan pada 17 Maret mendatang.

Kasus ini mencuat setelah Maduro dan istrinya dilaporkan ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat dan dibawa ke New York. Langkah tersebut memicu gelombang reaksi internasional, dengan sejumlah pihak di berbagai negara mengecam tindakan AS yang dinilai melanggar kedaulatan dan hukum internasional.

Pemerintah Venezuela sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terbaru terkait jalannya sidang, namun kasus ini diperkirakan akan semakin memanaskan tensi politik antara Washington dan Caracas, sekaligus menarik perhatian dunia internasional dalam waktu dekat.

(Berita12)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *