SUBANG, Berita12.com — Majelis GAZA (Gerakan Akhir Zaman) yang didirikan sejak 2021 silam oleh Diki Candra, atau panggilan akrabnya “Kang Diki” menyampaikan bahwa pola pendidikan yang ada di Tanah Uzlah Bukit Lebah dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam, Rabu (18/2/2026).
“Ditekankan tahfiz quran, tadabbur dan memahami arti maknanya. Karena di perkampungan uzlah yang didirikan sejak 5 tahun ini memiliki ciri khas pendidikan yakni anak di didik sebagai pejuang,” ujar Kang Diki.
Beliau menekankan pendidikan yang disiplin untuk mempersiapkan generasi muda siap untuk menghadapi fitnah dajjal. Karena saat ini, tidak disadari kehidupan manusia secara tidak langsung telah masuk ke dalam sistem dajjal. Sehingga umat muslim seolah hampir kehilangan jati diri sebagai muslim.
” Jadi lembaga pendidikan di Majelis GAZA ini, tidak mendaftarkan diri kepada pemerintah istilahnya sistem pendidikan disini adalah pendidikan informal atau sekarang dikenal dengan home schooling,” kata Kang Diki.
Hal tersebut bertujuan untuk melahirkan kaum pejuang, karena didalam Mubasyirat, memberi pesan bahwa di tempat tersebut harus dijadikan tempat melahirkan para pejuang.
Kang Diki juga menjelaskan bahwa saat ini cabang Majelis GAZA belum memiliki cabang di daerah lain, karena mendirikan tanah uzlah Majelis Gaza tidak lah mudah, dan sedikit sulit merealisasikannya. Sehingga Kang Diki ingin berfokus mengembangkan dan membesarkan Majelis GAZA di Tanah Uzlah terlebih dahulu.
“Kami dalam hal ini meraba-raba sendiri, berbagai ujian kita yang dilalui, tidak mudah membuat uzlah karena uzlah harus berjemaah. Uzlah harus saling memperkuat, sementara untuk membuat cabang Majelis Gaza dan tempat uzlah bagi kami terlalu berat. Karena orang uzlah itu sudah terputus dengan urusan pekerjaan dan bisnis, yang dilakukan hanyalah pendekatan diri kepada Allah SWT saja,” ungkap Kang Diki.
Terkait kondisi lingkungan tempat uzlah di Bukit Lebah ini terutama bagi kaum perempuan, yang menghadapi kondisi melalui medan jalan menuju lokasi yang curam, terjal dan ekstrim. Tentu ada anak-anak dan ibu yang hamil, melahirkan serta lansia.
Maka guna menghadapi permasalahan ini, jika ada yang mau melahirkan tentu masyarakat majelis GAZA akan dibawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Begitu juga jika ada kematian, Majelis GAZA akan menangani seperti biasa.
“Karena kami pindah ke tempat uzlah ini, baru lima tahun. Soal kependudukan kita tetap mendaftarkan ke instansi pemerintah setempat karena kita berada di negara Indonesia dan bergerak inklusif,” pungkasnya.
(Berita12)










