Batang, Berita12.com — Salah satu praktik baik dan sangat layak untuk menjadi teladan bagi demokrasi di Indonesia dari Muhammadiyah adalah masa jabatan atau periodesasi yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Disebutkan dalam AD/ART Muhammadiyah, bahwa periode jabatan PP, PWM, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) adalah lima tahun.
Sedangkan untuk jabatan Ketua Umum mulai dari PP sampai dengan PDM, masing-masing dapat dijabat oleh orang yang sama dua kali masa jabatan berturut-turut.
“Saya pikir di Muhammadiyah bagus, periode jabatan itu sudah tidak bisa ditawar lagi dan itu bisa jadi contoh bagi demokrasi di negeri tercinta,” kata Haedar Nashir dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Selasa (14/4/2026).
Selain mendorong periode kepemimpinan yang proporsional, Haedar juga mendorong supaya takwa (menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt) dapat dijadikan sebagai akhlak publik seorang muslim.
Sementara untuk pesan ke dalam, dia meminta supaya hadirnya Muhammadiyah ini dapat menghidupkan Islam di jiwa, pikiran, dan tindakan umat, sekaligus memperdalam dan memperluas pemahaman keagamaan supaya tidak stagnan.
Membangun kehidupan maju yang diinginkan Muhammadiyah ini tidak sama kemudian dengan Barat. Tapi kehidupan maju yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Nabi, disertai dengan ijtihad atau tajdid.
“Pendapat ulama atau qaul ulama baik pribadi maupun kolektif itu untuk meningkatkan pemahaman. Keislaman kita bersumber Al Qur’an dan Sunah Nabi, yang kemudian agama itu melahirkan pencerahan hidup. Bukan kita berbelok dari sumber nilai ajaran itu ke qaul ulama,” ungkap Haedar.
Hal itu disampaikan Haedar Nashir sebab sering terjadi bias. Karena sehebat ulama itu memiliki kecenderungan pribadi seperti kepada siapa dia berguru, perspektif apa yang dia miliki, seberapa luas horizon pergaulan, dan lain sebagainya.
“Maka kenapa Muhammadiyah ar ruju ila Qur’an wa Sunah. Tapi jangan berhenti di situ, perdalam agama itu sehingga sampai ke jantung substansi yang paling inti,” tutur Haedar.
Menurutnya, ketika takwa dijadikan sebagai akhlak publik oleh seorang muslim, maka secara langsung Agama Islam akan menjadi sumber pencerahan hidup dan memberi kerahmatan bagi seluruh alam.
(Berita12)












