Pasien Lansia Meninggal Tak Tertangani, Bupati Mamasa Copot Kepala Puskesmas Nosu

Mamasa351 Dilihat

MAMASA, Berita12.com — Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, resmi mencopot Kepala Puskesmas Nosu, Adolfina Y.T., menyusul insiden tragis meninggalnya seorang pasien lansia yang tidak mendapat penanganan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Keputusan ini diambil setelah tim investigasi gabungan menyelesaikan pemeriksaan intensif atas kasus yang memicu kemarahan publik.

“Langkah ini kami ambil sebagai bentuk tanggung jawab atas buruknya pelayanan yang terjadi. Tidak boleh ada toleransi terhadap kelalaian dalam penanganan pasien,” ujar Bupati Welem dalam keterangan resminya, Sabtu (2/8/2025).

Investigasi: IGD Kosong Saat Pasien Tiba

Tim investigasi dari Pemerintah Kabupaten Mamasa terdiri atas Kepala Dinas Kesehatan, Kepala BKPPD Baso Parjuni, serta Inspektorat, dengan pengamanan dari aparat kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Pana’. Mereka melakukan peninjauan langsung ke lokasi, memeriksa sistem pelayanan, dan mengumpulkan keterangan dari pihak keluarga pasien.

Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya kelalaian serius. Saat pasien dalam kondisi kritis tiba di IGD, tidak ada tenaga medis yang berjaga.

“IGD tidak boleh kosong dalam kondisi apapun. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap standar operasional,” tegas Baso Parjuni.

Temuan tersebut diperkuat oleh video berdurasi lebih dari empat menit yang beredar luas di media sosial. Dalam video itu, seorang perempuan lansia tampak terbaring di IGD tanpa penanganan selama lebih dari 15 menit hingga akhirnya meninggal dunia. Publik merespons dengan kemarahan dan desakan kepada pemerintah untuk bertindak tegas.

Kepala Puskesmas Angkat Bicara

Menanggapi pencopotan dirinya, Adolfina Y.T. menyampaikan kronologi versi Puskesmas. Ia menyebut bahwa insiden terjadi saat tenaga medis dalam kondisi terbatas.

“Sekitar 30 menit sebelumnya, petugas jaga sedang mengantar pasien rujukan ke RSUD Polewali. Sementara satu-satunya perawat yang tersisa tengah menangani proses persalinan di lantai dua,” ujarnya.

Menurut Adolfina, satpam Puskesmas langsung memanggil perawat tersebut saat pasien lansia tiba. Namun, pasien sudah dalam kondisi kritis dan meninggal sebelum sempat mendapatkan penanganan. Adolfina sendiri mengaku sedang berada di rumah dinas dan membutuhkan waktu untuk menuju lokasi.

Pernyataan ini dibenarkan oleh satpam yang bertugas malam itu, Soleman Sulle. Ia menambahkan bahwa waktu dari kedatangan pasien hingga meninggal hanya berkisar 10 menit.

Krisis Tenaga Medis di Daerah Terpencil

Dalam keterangannya, Adolfina juga menyoroti akar persoalan yang selama ini belum tertangani: minimnya tenaga kesehatan.

“Puskesmas Nosu tidak memiliki dokter. Hanya ada empat tenaga medis yang harus bergantian berjaga 24 jam,” ungkapnya.

Kondisi ini, kata Adolfina, membuat pelayanan kesehatan menjadi sangat rentan, terutama dalam kondisi darurat. Ia berharap pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan segera mencari solusi, termasuk penambahan tenaga medis, agar tragedi serupa tidak terulang.

Potret Buram Layanan Kesehatan di Pelosok

Kasus ini menjadi cermin nyata rapuhnya sistem layanan kesehatan di daerah terpencil seperti Nosu. Keterbatasan tenaga, minimnya fasilitas, dan beban kerja yang tidak seimbang memperlihatkan bahwa akses terhadap pelayanan medis yang layak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Mamasa berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan kesehatan, khususnya di wilayah-wilayah yang rawan kekurangan tenaga medis.

(Berita12)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *