JAKARTA, Berita12.com — Satu dekade sejak pertama kali diselenggarakan, 100% Manusia Film Festival terus berkembang sebagai ruang bertemu publik dalam mendiskusikan berbagai isu sosial, hak asasi manusia lewat film dan medium kreatif lainnya. 100% Manusia Film Festival mempertemukan sineas, aktivis, akademisi, komunitas hingga publik umum dalam ruang aman untuk saling berbagi perspektif, membangun empati dan merayakan keberagaman, Selasa (28/7/2026).
Di edisi ke-10, 100% Manusia Film Festival kembali hadir pada 6–15 Agustus 2026 dengan tema ‘A Decade of Love Language’. Selama sepuluh hari, festival akan menghadirkan 86 film yang terbagi menjadi 24 film panjang dan 62 film pendek dari 21 negara, di antaranya Austria, Belanda, Filipina, Kamerun, Madagaskar, Meksiko, Myanmar, Nepal, Spanyol, Swedia, dan Vietnam, yang dapat dinikmati secara gratis di 11 venue di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta,
Menurut Kepala Program Film di 100% Manusia Film Festival, Meninaputri Wismurti seluruh program film tahun ini dikurasi dengan mempertimbangkan beragam wajah kemanusiaan di kehidupan sehari-hari.
“Tahun ini kami banyak melihat cerita yang menampilkan keberanian manusia dalam berekspresi, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan kemauan untuk terus bertahan di tengah himpitan. Serunya, film-film ini hadir dengan berbagai genre pop seperti komedi, animasi, horror, thriller dan kecenderungan “bermain’ dengan unsur kenangan/memori, seperti foto-foto yang tercetak, arsip lama, suara, arsitektur, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan bisa dirasa apabila kita mau membuka hati dan mata,” ujarnya dalam Press Conference di Austria Embassy, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).
Sebagai bagian dari perayaan satu dekade, festival juga menghadirkan program baru 100% KISS (Keep It Sassy & Short), sebuah program kurasi khusus bagi film-film pendek berdurasi di bawah 10 menit. Program ini menunjukkan bahwa cerita yang singkat tetap mampu menyampaikan gagasan yang kuat, menggugah emosi, sekaligus menghadirkan perspektif baru mengenai berbagai isu kemanusiaan.
“Program baru lainnya adalah 100% SEAblings yang menayangkan film-film pendek dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain pemutaran film, masyarakat juga dapat mengikuti berbagai program non-film yang mengajak masyarakat berdialog mengenai kemanusiaan, keberagaman, dan inklusivitas melalui seni, literasi, musik, hingga kegiatan komunitas,” tuturnya.
Chargés D’affaires ad Interim of The Austrian Embassy Jakarta, Michael Wislocki turut mengungkapkan bahwa Festival ini menjadi sebuah kemitraan yang Bersejarah.
“Kedutaan besar sedang merayakan kemitraan jangka panjangnya dengan festival ini karena festival tersebut merayakan edisi ke-10 yang bersejarah. Adapun peran festival dalam mempromosikan hak asasi manusia, inklusi, dan dialog budaya melalui sinema,” ungkapnya.
Kemitraan dengan Kedutaan besar bertujuan untuk membuka pintunya bagi beragam perspektif, serta budaya antar negara.
“Jajaran film festival tahun ini mencakup dua film Austria, satu sudah diumumkan, dan satu lagi masih dirahasiakan,” katanya.
Kepala Program Acara Non-Film dari 100% Manusia Film Festival, Rain Cuaca mengatakan, “Lewat tema ‘A Decade of Love Language’, kami ingin merayakan perjalanan festival ini sambil mengajak lebih banyak orang melihat bahwa empati adalah bahasa yang dimengerti semua orang.
“Selama 10 tahun, kami terus membangun ruang aman bagi siapa pun untuk saling mendengarkan, memahami, dan belajar dari pengalaman satu sama lain,” kata Rain Cuaca.
Semangat dari ‘A Decade of Love Language’ tercermin dalam 100% Love Language, sebuah kompilasi film pendek Indonesia yang membuka 100% Manusia Film Festival dan menghadirkan kisah cinta dalam berbagai bentuk: hangat, sederhana, pergulatan, hingga keberanian untuk tetap mencintai di tengah situasi yang sulit. Keenam film ini adalah Waktu Luang (Tangerang), Folding Sadness (Medan), Malam Sepanjang Nafas (Kupang), BAGUS: Dancing Like a Lady (Magetan), Parade si Rambo (Jakarta) dan Selamat Tidur, Adil! (Sidoarjo).
Festival akan ditutup dengan pemutaran film 10s Across Borders karya sutradara Chan Sze-Wei. Film yang tayang perdana di Busan International Film Festival 2025 ini memperoleh nominasi Best Documentary Film pada Asia Pacific Screen Awards 2025 dan memenangkan Audience Choice Award for Documentary Film di Festival Film Tampa 2025.
Program Non-Film ini bertema seni, literasi, musik, kesehatan, dan kegiatan komunitas, di antaranya:
● 100% Exhibition, pameran arsip poster yang menampilkan perjalanan satu dekade
100% Manusia Film Festival sekaligus merefleksikan perkembangan festival dan isu-isu kemanusiaan yang diangkat.
● 100% A Walk to Understand, tur jalan kaki menelusuri sejarah hak asasi manusia, keberagaman, dan toleransi di Jakarta.
● 100% Outloud, panggung slam poetry bagi peserta untuk menyampaikan pengalaman, keresahan, dan harapan mengenai berbagai isu sosial.
● 100% All You Can Read, program literasi berupa bedah buku dan diskusi bersama penulis mengenai tema-tema kemanusiaan.
● 100% In Harmony, sesi karaoke publik yang merayakan kebebasan berekspresi dan kebersamaan tanpa stigma maupun penilaian.
● 100% DIY Sign Language, lokakarya Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk membangun komunikasi yang lebih inklusif sekaligus memperkenalkan budaya Tuli.
● 100% Cinergi, pemutaran film inklusif, kali ini bagi penyandang disabilitas netra yang dibantu relawan pembisik Bisik Buddy.
● 100% Health Screening, layanan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat di salah satu hari pada saat festival berlangsung.
Program pengembangan kapasitas ini diikuti oleh 14 peserta dari berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan festival film, kolaborasi lintas negara, serta penguatan ekosistem perfilman independen di kawasan. Puncak lokakarya Cinema Without Borders adalah 100% Meet The Festivals yang akan berlangsung pada 10 Agustus 2026 di Erasmus Huis Jakarta.
Di acara ini, para peserta akan mempresentasikan festival film mereka kepada publik, dilanjutkan dengan pemutaran lima film pendek Asia Tenggara yang dirangkum dalam 100% SEAblings, yaitu Sotong (Malaysia), Dark Zomia (Myanmar), Nothing Gentle in the Shadow (Malaysia), What Will Happen Tomorrow? (Myanmar), dan Untitled Document (Vietnam). Seluruh pemutaran film dan sebagian besar program non-film dapat diikuti secara gratis.
(Berita12)






