JAKARTA – Sekretaris Jenderal Free Palestine Network (FPN), Furqan AMC, menilai usulan Donald Trump untuk memindahkan dua juta warga Gaza ke Indonesia sebagai bentuk baru kolonialisme.
Ia menyamakan gagasan tersebut dengan tragedi Nakba pada 1948, ketika sekitar 750 ribu warga Palestina diusir dari tanah airnya.
“Usulan Trump ini adalah jebakan kolonialisme. Ia mencoba menyamarkan idenya sebagai niat baik untuk membantu Palestina, tetapi sebenarnya bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka,” ujar Furqan.
Furqan menambahkan, rencana tersebut mencerminkan praktik kolonialisme pemukim yang pernah diterapkan Inggris di Amerika, Kanada, dan Australia, di mana penduduk asli disingkirkan demi okupasi wilayah mereka.
Ia juga menegaskan bahwa usulan ini menunjukkan kesalahpahaman Trump terhadap solidaritas Indonesia terhadap Palestina.
“Relokasi warga Gaza ke Indonesia tidak sejalan dengan semangat solidaritas kita. Sejak awal, Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina atas tanah airnya,” tegas Furqan.
Baca juga: https://www.berita12.com/fpn-dukung-prabowo-galang-persatuan-lawan-imperialisme-global/
Lebih jauh, Furqan mencurigai ide tersebut sebagai upaya Trump untuk menekan Indonesia yang selama ini vokal membela Palestina. Ia pun berharap Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menolak gagasan itu secara tegas.
Sementara itu, pakar Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Dr. Dina Yulianti M.Si, mengungkapkan bahwa tindakan Israel terhadap Gaza selama lebih dari satu tahun terakhir telah memenuhi definisi ethnic cleansing atau pembersihan etnis.
“Pembersihan etnis adalah pemindahan paksa kelompok tertentu dari wilayah mereka, dan ini jelas melanggar hukum humaniter internasional,” ungkap Dina, yang juga Ketua Dewan Pakar FPN.
Dina menilai usulan Trump untuk merelokasi warga Gaza, baik ke Indonesia maupun negara lain, dengan alasan rekonstruksi, sejatinya mendukung tujuan Israel untuk mengosongkan Gaza dari penduduk Palestina.
(Berita12)











1 komentar