Tan Malaka: Sang Revolusioner yang Absen di Hari Proklamasi

Mamuju595 Dilihat

Berita12.com – Juli 1945, di tengah suasana genting menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang di Nusantara, Sutan Sjahrir gelisah. Ia meyakini bahwa proklamasi kemerdekaan tidak boleh dibacakan oleh mereka yang terlalu dekat dengan Jepang.

Sjahrir memandang Sukarno-Hatta sebagai kolaborator militer pendudukan, sementara dirinya sendiri dianggap tidak cukup populer di mata rakyat. Maka, ia pun mencari sosok lain yang menurutnya paling layak untuk berdiri di podium kemerdekaan: Tan Malaka.

Tan Malaka bukan tokoh sembarangan. Selama dua dekade ia hidup dalam pelarian, menulis, mengorganisir, dan menyalakan bara semangat kemerdekaan dari balik bayang-bayang.

Salah satu karyanya yang monumental, Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) terbit tahun 1925 di Belanda. Buku itu menjadi bacaan wajib para tokoh pergerakan, bahkan memengaruhi Sukarno muda.

Namun ketika akhirnya Sjahrir berhasil menemukan Tan Malaka, harapannya pupus. Tan Malaka menolak untuk tampil membacakan teks proklamasi. Ia merasa belum siap, bahkan memilih tetap berada di jalur bawah tanah. Maka pada 17 Agustus 1945, ketika bendera pusaka dikibarkan, Tan Malaka tidak hadir di barisan depan sejarah bangsanya.

Meski absen di momen sakral itu, jejak Tan Malaka tetap membekas. Beberapa literatur menyebut bahwa dialah yang mendorong kelompok pemuda seperti Sukarni untuk terus mendesak kemerdekaan segera diproklamasikan. Tercatat, pada 6 dan 14 Agustus 1945, Tan hadir di rumah Sukarni dengan nama samaran Ilyas Husain, membicarakan masa depan bangsa yang masih digelayuti bayang-bayang Jepang.

Sekitar tiga minggu setelah proklamasi, kabar tentang keberadaan Tan Malaka di Jakarta sampai ke telinga Sukarno. Sang Proklamator pun meminta Sayuti Melik untuk mempertemukan mereka.

Dalam kesaksian Sayuti yang dimuat Sinar Harapan (1976), Sukarno bahkan berpesan agar Tan Malaka bersedia menggantikan dirinya dan Hatta bila sesuatu menimpa keduanya.

Tan Malaka menanggapi amanah itu dengan sederhana. Dalam memoarnya Dari Penjara ke Penjara, ia menulis:

“Saya sudah cukup senang bertemu Presiden Republik Indonesia, republik yang sudah lama saya idamkan.”

Namun kemerdekaan tidak sepenuhnya memerdekakan hidupnya. Statusnya sebagai buronan membuatnya terus diburu, bahkan oleh negara yang ia cita-citakan. Empat tahun kemudian, 1949, Tan Malaka tewas di Kediri oleh peluru tentara republik. Ia pergi dalam kesunyian, tanpa sempat melihat buah perjuangan panjangnya tumbuh menjadi Indonesia yang kokoh.

Hingga akhir hayatnya, Tan Malaka tetaplah seorang revolusioner sejati, seorang bapak bangsa yang sunyi, namun jejak pemikirannya terus hidup dalam denyut sejarah republik.

(Berita12)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *