Jakarta, Berita12.com — Saat ini kondisi Indonesia sedang mengalami masa kesenjangan ekonomi serta panasnya situasi politik di Pemerintahan. Tentu ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat, kemudian ditambah dengan kemajuan teknologi yang berkembang sangat luar biasa, yang tidak diikuti oleh regulasi. Sehingga yang terjadi adalah kemunculan disinformasi, hoaks yang luar biasa sesuai dengan kepentingan para pembuatnya. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum AMSI, Suwarjono dalam Talk show “Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital” di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurut Suwarjono, akibat kondisi yang terjadi di Indonesia. Semakin banyak pembuat konten dalam menyebarkan informasi di sosial media hanya berdasarkan isu dan tanpa melakukan kebenaran, hal ini dibuktikan dengan Masyarakat saat ini lebih menyukai menonton video yang lewat di sosial media nya dibandingkan harus membuka link berita terpercaya.
“Nah saat ini, situasi politik sangat dinamis, ekonomi sangat dinamis. Kalau masyarakat tidak kritis, tidak kita literasi. Mereka bisa dengan gampang sekali menelan informasi yang beredar di media sosial. Yang banyak sekali dibuat dengan AI, video-video yang sangat bertentangan, tidak hanya bertentangan, bahkan informasi-informasi palsu banyak bertebaran,” ujar Suwarjono.
Lebih lanjut beliau mengatakan, disinformasi, misinformasi, hoaks dan fake news sudah membanjiri ruang-ruang publik dan di media sosial beredar sangat masif. Disinformasi-disinformasi ini, menjadi gairah semua media dan tidak hanya media, tapi sudah melibatkan publik dalam hal ini masyarakat umum, pembuat konten, mahasiswa dan lain-lain.
“Nah ini yang sebetulnya dari awal yang kami khawatirkan ketika tidak ada regulasi yang membatasi, ketika semua orang sudah bisa membuat konten, kemudian ditambah dengan kemajuan teknologi yang berkembang sangat luar biasa, yang tidak diikuti oleh regulasi. Sehingga yang terjadi adalah kemunculan disinformasi, hoaks yang luar biasa sesuai dengan kepentingan para pembuatnya,” ungkapnya.
Menurutnya, lemahnya pengawasan dan sekaligus regulasi, si pembuat konten yang beredar tidak ada saringan sama sekali. Sehingga dimanfaatkan oleh para pembuat konten yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan para sponsor atau di balik layar.
“Ke depan AMSI terus mengajak semua pihak dari berbagai kalangan, terutama teman-teman yang menjadi aktivis cek fakta untuk bahu-membahu. Karena di media sedang berubah juga, kami terus terang di media berbasis website sekarang mulai banyak membangun media-media sosial. Karena sekarang sumber informasi ada di sana, perubahan audiensnya sangat luar biasa cepat, tidak lagi mau mengakses website, tidak mau membaca teks gitu. Tapi semua sudah mulai mengarah ke konten video, mereka hanya ingin melihat visual,” katanya.
Sementara itu Dosen UMN, Fx Lilik Mardjianto yang turut hadir juga menjelaskan tentang sisi negatif dari pembuat konten yang tidak paham regulasi, hanya akan memanfaatkan situasi tersebut demi mendapatkan viewer yang banyak. Kemudian mereka akan mengidentifikasi target, dan setelah itu mereka akan mendesain strategi dan apa yang perlu dicapai.
“Strateginya sangat beragam, nanti kita bisa definisikan. Diaa akan membuat konten sebagai senjata yang luar biasa. Dia akan memanipulasi konten dalam berbagai macam format, bahkan termasuk misalnya akan membeli konten-konten yang disebut oleh AIAS sebagai CIB, kemudian channel-channel yang sudah dibuang dan tidak digunakan itu bisa diambil, dimonetisasi ulang, dan kemudian digunakan untuk mengamplifikasi konten,” tuturnya.
Ia mengatakan, para pembuat konten itu akan koordinasi antar platform, dan mencari sesuatu yang menarik, membanjiri ekosistem informasi dengan konten-konten yang pada akhirnya menenggelamkan konten-konten yang kredibel.
Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat agar melakukan cek informasi terlebih dahulu sebelum mencerna sebuah informasi yang beredar. Karena hal tersebut tentu dapat merugikan berbagai pihak dan kesalahpahaman.
(Berita12)








