Mamasa – Tetikadi dan Andi Guling, dua tenaga honorer di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, telah mengabdi selama hampir 20 tahun.
Namun, hingga kini mereka belum mendapatkan kepastian status sebagai pegawai pemerintah.
Merasa tidak diperlakukan adil, keduanya bersama sejumlah honorer lainnya menggelar aksi menuntut kesetaraan dengan tenaga honorer P3K.
Baca juga: Ratusan Honorer R2 dan R3 Mamasa Gelar Aksi, Tuntut Kepastian Status dan Kesejahteraan
Andi Guling, yang bekerja di bidang perbendaharaan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Mamasa, menyatakan bahwa mereka tidak ingin diberikan status paruh waktu setelah puluhan tahun bekerja penuh waktu.
“Kami tenaga honorer R2 menuntut agar disamaratakan dengan tenaga honorer P3K R1. Kami sudah mengabdi puluhan tahun, tetapi mengapa tidak ada keadilan bagi kami yang telah bekerja untuk negara begitu lama?” ujar Andi Guling saat diwawancarai, Senin (3/2/2025).
Selain sebagai tenaga honorer, Andi Guling juga tercatat sebagai salah satu pemuda yang berjuang dalam pembentukan Kabupaten Mamasa.
Sebagai penghargaan, ia pernah menerima piagam dari Bupati Ramlan Badawi atas perannya dalam organisasi Masumpa sebuah gerakan mahasiswa yang memperjuangkan pemekaran Mamasa dari Kabupaten Polewali Mandar.
Senada dengan Andi Guling, Tetikadi yang telah mengabdi sebagai tenaga honorer di Kantor Kecamatan Rante Bulahan Timur (Rantim) selama 20 tahun, juga mempertanyakan kebijakan pemerintah terhadap honorer seperti dirinya.
“Apakah pemerintah tidak memperhitungkan lamanya pengabdian kami? Setiap hari saya berjalan kaki tiga kilometer menuju kantor, tetapi perjuangan ini seakan tidak dihargai,” ujarnya dengan nada kecewa.
Tetikadi dan Andi Guling berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memperhatikan nasib tenaga honorer yang telah lama mengabdi.
Mereka menegaskan bahwa kebijakan yang tidak mempertimbangkan masa kerja honorer akan menciptakan ketidakadilan bagi mereka yang telah berkontribusi besar bagi daerah.
“Kami tidak meminta lebih, hanya ingin keadilan. Semoga pemerintah dapat mempertimbangkan pengabdian kami yang sudah sangat lama,” tutup Tetikadi.
Aksi para honorer di Mamasa ini menjadi potret perjuangan tenaga non-ASN yang hingga kini masih menunggu kepastian status dan kejelasan masa depan mereka.
(Berita12)












