MAMUJU, Berita12.com — Menindaklanjuti arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana terkait penanganan dampak musim kemarau, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menginstruksikan personil Tim I Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla BPBD Sulbar untuk siaga melayani masyarakat serta melakukan pemantauan kondisi wilayah secara real-time.
BPBD Provinsi Sulawesi Barat mengoptimalkan layanan penanganan bencana kekeringan melalui pendistribusian air bersih serta pemantauan intensif titik panas (hotspot), kualitas udara (PM2.5), dan kejadian Karhutla di wilayah Sulawesi Barat.
Pelayanan distribusi air bersih dilaksanakan di Batu Pannu, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju. Sementara kejadian Karhutla terpantau di Desa Lampoko (Kecamatan Campalagian) dan Desa Rappang (Kecamatan Tapango), Kabupaten Polewali Mandar.
“Langkah cepat ini diambil guna mengantisipasi kekeringan akibat kemarau, mencegah meluasnya dampak Karhutla, serta meminimalkan ancaman kesehatan masyarakat dari paparan kualitas udara yang buruk,” kata Muhammad Yasir Fattah, Kamis (22/10/2026).
BPBD Sulbar mengerahkan armada mobil tangki air untuk menyalurkan 5.000 liter air bersih, memanfaatkan sistem pemantauan data satelit BMKG/IQAir, serta mengkoordinasikan pemadaman Karhutla di lokasi terdampak.
Rincian Laporan Situasi (21–22 Oktober 2026):
1. Penanganan Kekeringan & Air Bersih:
– BPBD Sulbar telah menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih ke wilayah Batu Pannu, Kecamatan Mamuju. Penyaluran ini memberikan manfaat langsung bagi warga yang terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau.
2. Pemantauan Titik Panas (Hotspot) & Karhutla:
– Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tampa Padang, terdeteksi sebaran titik panas di wilayah Sulawesi Barat yang terus dipantau secara berkala.
– Di Kabupaten Polewali Mandar, terjadi 2 kejadian Karhutla pada 21 Oktober 2026, yaitu di Desa Lampoko (Campalagian) menghanguskan sekitar 3 hektar lahan/kebun, dan di Desa Rappang (Tapango) seluas kurang lebih 2 hektar. Total akumulasi lahan terbakar mencapai 5 hektar.
3. Status Kualitas Udara:
– Hasil pantauan kondisi kualitas udara (konsentrasi PM2.5) di Kota Mamuju dan seluruh wilayah Sulawesi Barat berada pada kategori SEDANG. Masyarakat dihimbau untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan.
(Berita12)












