Mahasiswa dan Warga Botteng Tolak Tambang Tanah Jarang: “Jangan Korbankan Masa Depan Rakyat”

Mamuju232 Dilihat

Berita12.com – Gelombang penolakan terhadap rencana masuknya investor tambang tanah jarang di wilayah Botteng terus menguat. Mahasiswa bersama masyarakat menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk aktivitas pertambangan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan mengancam ruang hidup warga.

Penolakan itu disampaikan aktivis mahasiswa, Yusril, yang menilai kehadiran tambang tanah jarang hanya akan membuka ruang eksploitasi terhadap wilayah masyarakat yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

“Botteng bukan tanah kosong yang bisa seenaknya dijadikan lahan eksploitasi investor. Tanah ini adalah ruang hidup masyarakat, tempat rakyat menggantungkan masa depan mereka. Kami menolak keras segala bentuk pemaksaan masuknya tambang tanah jarang di wilayah Botteng,” tegas Yusril. Jumat, (15/5/2026).

Menurutnya, pola investasi tambang kerap datang dengan janji kesejahteraan, namun pada akhirnya meninggalkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Ia menilai masyarakat sering kali hanya menjadi penonton ketika kepentingan investor mulai menguasai wilayah mereka sendiri.

“Kami sudah terlalu sering melihat bagaimana tambang masuk dengan membawa janji manis, tetapi akhirnya rakyat kehilangan tanah, air tercemar, hutan rusak, dan masyarakat hidup dalam ancaman. Jangan jadikan Botteng sebagai korban berikutnya,” lanjutnya.

Yusril mengungkapkan, aktivitas tambang tanah jarang berpotensi memunculkan dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Ia merinci sedikitnya sembilan ancaman yang dikhawatirkan terjadi apabila aktivitas tambang dipaksakan masuk ke Botteng.

Ancaman tersebut meliputi kerusakan hutan akibat pembukaan lahan besar-besaran, pencemaran sumber air bersih, risiko longsor dan banjir karena rusaknya kawasan resapan air, hingga hilangnya lahan pertanian produktif milik warga.

Selain itu, debu dan limbah tambang disebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Aktivitas kendaraan tambang juga dinilai dapat merusak jalan dan fasilitas umum. Tidak hanya itu, ia menilai kehadiran tambang rawan memicu konflik sosial serta mengancam ruang hidup masyarakat dan keberlangsungan generasi mendatang.

“Yang datang mungkin investor, tetapi yang menanggung akibatnya adalah rakyat. Ketika gunung rusak, air tercemar, dan tanah kehilangan kesuburan, masyarakatlah yang paling menderita. Jangan tukar masa depan Botteng hanya demi kepentingan segelintir pemodal,” katanya.

Ia menegaskan, masyarakat Botteng selama ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan lingkungan yang sehat. Karena itu, eksploitasi tambang dinilai hanya akan menguntungkan investor, sementara masyarakat sekitar harus menanggung dampak kerusakan dalam jangka panjang.

Yusril juga meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap keresahan masyarakat terkait rencana tambang tanah jarang tersebut. Ia mendesak pemerintah agar tidak hanya hadir saat kepentingan investasi masuk, tetapi juga hadir melindungi keselamatan lingkungan dan masa depan masyarakat.

“Pemerintah jangan hanya menjadi penjaga kepentingan investor. Dengarkan suara rakyat yang hari ini resah dan takut kehilangan tanahnya sendiri. Jika pemerintah terus memaksakan tambang masuk tanpa mendengar aspirasi masyarakat, maka itu sama saja membiarkan penderitaan rakyat terjadi di depan mata,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat memiliki hak penuh mempertahankan wilayahnya dari ancaman eksploitasi yang dianggap dapat merusak masa depan generasi mendatang. Ia pun memperingatkan bahwa gelombang perlawanan akan terus membesar apabila aspirasi penolakan warga diabaikan.

“Kalau investor memaksa masuk, maka jangan salahkan rakyat ketika perlawanan muncul. Mahasiswa dan masyarakat siap turun ke jalan untuk mempertahankan tanah Botteng dari ancaman tambang tanah jarang,” tutupnya. (*)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *