Oleh: Andi Muhammad Ikbal Salam, M.Fil.l
Berita12.com – Definisi Hijrah
Secara etimologis, kata hijrah berarti “perpindahan” atau “perubahan”. Dalam konteks spiritual, hijrah merujuk pada proses berpindah dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik, dari keterasingan terhadap Tuhan menuju kedekatan dengan-Nya.
Makna Filosofis Hijrah
Secara filosofis, hijrah merupakan perjalanan transformasi diri yang mendalam. Ia melibatkan perubahan pola pikir, perilaku, dan kebiasaan yang tidak baik menuju bentuk kehidupan yang lebih bermakna dan otentik. Hijrah adalah proses pencarian jati diri yang sejati, menanggalkan topeng kepalsuan, dan berusaha mendekat pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan.
Hijrah Epistemik: Dari Literalitas Menuju Makna
Hijrah juga memiliki dimensi epistemik yakni peralihan cara pandang dari pemahaman yang sempit dan literal menuju pemaknaan yang lebih mendalam dan kontekstual. Misalnya, memahami ibadah tidak hanya sebagai rangkaian ritus lahiriah, tetapi sebagai praktik spiritual yang sarat makna batin.
Contohnya adalah shalat. Secara lahiriah, ia adalah gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Namun jika hanya dilakukan secara mekanis tanpa pemahaman makna, bisa terjebak dalam kecaman Allah seperti dalam QS. Al-Ma’un:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, yang berbuat riya dan enggan memberi bantuan.” (QS. Al-Ma’un: 4–7)
Ayat ini mengingatkan bahwa shalat sejati adalah yang tidak lalai dari makna, tidak dijalankan dengan niat riya, dan berdampak pada kepedulian sosial. Ibadah yang bermakna akan melahirkan manusia yang peduli, memberi, dan membangun kemanusiaan bukan yang mudah mencaci dan menyalahkan mereka yang berbeda.
Hijrah Praktis: Dari Fanatisme ke Persaudaraan
Hijrah dalam praktik sehari-hari harus sejalan dengan hijrah epistemik. Artinya, bagaimana kita berinteraksi dengan kelompok atau penganut keyakinan yang berbeda. Apakah kita menyalahkan, atau justru memaknai perbedaan sebagai rahmat?
Hijrah praktis adalah berpindah dari sikap eksklusif dan menutup diri, menuju sikap inklusif yang membangun persatuan dalam perbedaan. Tujuannya adalah nilai-nilai universal: kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran. Bukan terjebak dalam ekspresi sektarian yang sempit, melainkan mendorong lahirnya akhlak yang mulia dan karakter yang kuat melalui ritual dan ibadah yang berorientasi pada pembentukan jiwa.
Hijrah mengajarkan kita untuk memiliki pandangan yang holistik dan mendalam, bukan pandangan yang sempit dan permukaan.
Spirit Hijrah dalam Sejarah: Teladan Imam Husain
Dalam sejarah Islam, terdapat peristiwa hijrah besar yang penuh makna: hijrah Imam Husain as. dari Madinah ke Karbala.
Ia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi hijrah total dengan iman, harta, dan jiwa untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.
Hijrah Imam Husain adalah perwujudan dari QS. At-Taubah: 20:
“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah orang-orang yang diangkat derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
Dalam tafsir al-Mizân karya Allamah Thabathaba’i, ayat ini juga dipahami sebagai isyarat terhadap peristiwa Karbala sebuah hijrah yang menghasilkan martir kebenaran, pemisah antara kezaliman dan kemanusiaan, antara duniawi dan ukhrawi, sebagaimana peristiwa tragis Habil dan Qabil.
Hijrah Imam Husain bukan hanya warisan sejarah, melainkan cahaya abadi yang menerangi pilihan moral kita hari ini: berdiam dalam kezaliman atau bangkit dalam perjuangan. (*)
Penulis adalah Dosen Filsafat Unsulbar












Pambusuang
Terimakasi atas pemberitahuan nya semoga saya tahan’