Berita12.com – Di balik etalase warung kecil yang kini ramai melayani kebutuhan warga, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang berupaya mengubah nasib keluarganya melalui usaha sederhana. Akses permodalan dan pendampingan usaha yang diberikan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi titik balik bagi sejumlah pelaku usaha ultra mikro di Kabupaten Mamasa.
Salah satunya adalah Lederika, nasabah PNM Mekaar Unit Mambi yang bergabung sejak Februari 2018. Sebelum memperoleh pembiayaan, ia hanya mampu mengelola warung sembako dengan stok barang yang terbatas. Kondisi tersebut kerap membuatnya kecewa ketika pelanggan datang mencari kebutuhan pokok yang tidak tersedia.
“Dulu warung saya hanya berisi beberapa barang karena modal sangat terbatas. Sering kali saya harus mengatakan kepada pelanggan bahwa barang yang mereka cari belum ada,” kenangnya.
Seiring berjalannya waktu, akses pembiayaan yang diterimanya secara bertahap hingga mencapai Rp11,5 juta membuka peluang baru bagi pengembangan usaha. Persediaan barang di warungnya bertambah, sementara layanan yang ditawarkan semakin beragam, mulai dari penjualan pulsa dan paket data, token listrik, pembayaran tagihan hingga layanan top up dompet digital.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada usaha, tetapi juga pada kondisi ekonomi keluarga. Anak Lederika bahkan menerima bantuan beasiswa dari PNM, yang menurutnya menjadi salah satu dukungan penting bagi keberlanjutan pendidikan sang anak.
Baginya, keberhasilan usaha bukan sekadar peningkatan pendapatan, melainkan kesempatan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga.
“PNM tidak hanya memberikan modal usaha, tetapi juga harapan. Saya bisa mengembangkan usaha, memperbaiki ekonomi keluarga, dan membantu pendidikan anak,” ujarnya.
Kisah serupa dialami Kristina Imelda, nasabah Mekaar Unit Mamasa yang juga menjabat Ketua Kelompok Mekaar Rante Koppe. Bergabung sejak 2017, ia memulai usaha dengan menjual nasi kuning dalam jumlah terbatas.
Setelah mendapatkan pembiayaan dan pendampingan usaha, warung miliknya berkembang menjadi usaha kuliner dengan berbagai pilihan menu, seperti ayam geprek, nasi campur, ikan goreng, dan aneka lauk siap saji lainnya.
Pemimpin Cabang PNM Makassar, Yazdi Anugerah, mengatakan program Mekaar dirancang untuk menjangkau masyarakat prasejahtera, termasuk perempuan pelaku usaha di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal.
Menurutnya, kehadiran PNM tidak hanya berfokus pada penyaluran modal, tetapi juga memastikan nasabah memperoleh pembinaan agar usaha yang dijalankan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
“Melalui Mekaar, kami ingin memastikan masyarakat hingga ke pelosok dapat merasakan manfaat akses permodalan dan pembinaan usaha. Harapannya, perempuan pelaku usaha dapat semakin mandiri dan usahanya terus berkembang,” kata Yazdi. Selasa, (30/6/2026).
Selain pembiayaan, PNM juga memberikan berbagai pelatihan bagi nasabah. Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, budaya menabung, desain kemasan produk, strategi pemasaran daring dan luring, perhitungan harga pokok produksi, pencatatan keuangan sederhana hingga edukasi terkait kebutuhan gizi keluarga.
Hingga kini, PNM Makassar mengoperasikan 116 unit layanan Mekaar dan 16 unit layanan ULaMM yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua. Jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat prasejahtera, kisah Lederika dan Kristina menunjukkan bahwa akses modal yang tepat, disertai pendampingan berkelanjutan, dapat menjadi jalan bagi usaha kecil untuk tumbuh dan menopang kehidupan keluarga. (*)












