Sejarah Akan Terulang, Para Tokoh Agama dari Masa ke Masa Justru Menolak Para Utusan Allah

Opini124 Dilihat

Oleh : Diki Candra 

Berita12.com — Tema ini sangat penting bahkan menjadi inti dari sejarah kenabian dan perlawanan ahlul kitab sendiri terhadap wahyu. Mengapa Ahlul Kitab, terutama para tokoh agama, dari masa ke masa justru menolak para utusan Allah, padahal mereka yang paling tahu tanda-tandanya?

1. Mereka mengetahui kebenaran para nabi, tapi menolaknya karena kedengkian dan hawa nafsu.

“Mereka mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Tetapi sebagian mereka sungguh menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 146).

Ini menunjukkan bahwa penolakan mereka bukan karena tidak tahu, tetapi karena kesengajaan menolak — ada hawa nafsu, iri, dan kepentingan di baliknya.

2. Karena sombong dan ingin mempertahankan otoritas keagamaan.

“Maka tatkala datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui (sebagai kebenaran), mereka kufur terhadapnya. Maka laknat Allah atas orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 89).

Dalam konteks ini, para ulama Yahudi menolak Nabi Muhammad ﷺ bukan karena tidak mengenal tanda-tandanya, tetapi karena tidak mau kehilangan kedudukan sebagai pemegang otoritas agama di Bani Israil.

3. Karena takut kehilangan kekuasaan dan pengaruh social.

“Sesungguhnya kebanyakan dari mereka ingin mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka setelah kebenaran nyata bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109).

Al-Qur’an menegaskan motif batiniah: kedengkian terhadap datangnya risalah baru yang menggeser posisi mereka sebagai pusat otoritas.

4. Karena disadari atau tidak, mereka menjadikan agama sebagai alat mencari dunia.

“Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali Imran [3]: 187).

“Celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka lalu berkata, ‘Ini dari Allah,’ untuk memperoleh keuntungan yang sedikit.” (QS. Al-Baqarah [2]: 79).

Ini menunjukkan korupsi ilmiah dan spiritual: mereka memanipulasi teks wahyu agar sesuai dengan kepentingan duniawi dan penguasa.

5. Karena keras hati dan kebutaan batin akibat dosa berulang.

“Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 13).

Penolakan berulang terhadap kebenaran membuat mereka tidak lagi mampu mengenali cahaya, meski secara ilmiah mereka tahu. Ini adalah fenomena mati rasa spiritual (qaswah al-qalb).

Adapun Hadist Nabi ﷺ: Pola Penolakan Ulama Dari Masa ke Masa

1. Semua nabi ditolak oleh para “tokoh agama” di masanya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang nabi diutus oleh Allah melainkan di antara kaumnya ada para pengikut dan musuhnya. Musuh-musuhnya adalah orang-orang yang meniru (pakaian) dan ucapan para nabi, tetapi hati mereka seperti hati syaitan.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar).

Ini menjelaskan pola sunnatullah sejarah: kaum agamawan sering menjadi oposisi utama para utusan Allah, karena mereka meniru agama secara lahir, tapi hatinya penuh riya, cinta dunia, dan kebencian terhadap perubahan.

2. Umat Islam pun akan mengulangi kesalahan Ahlul Kitab.

Nabi ﷺ bersabda: “Kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…” (HR. Bukhari & Muslim).

Umat Islam pun akan memiliki ulama yang menolak pembawa kebenaran akhir zaman (seperti al-Mahdi), sebagaimana ulama Yahudi dan Nasrani menolak nabi-nabi mereka.

Penolakan ulama terhadap utusan Allah adalah sunnatullah sejarah — manifestasi dari benturan antara ruh kebenaran dan struktur duniawi agama. Akar utamanya adalah tiga penyakit ruhani:

1.Hasad (kedengkian) terhadap karunia kenabian.

2. Kibr (kesombongan) karena merasa paling tahu.

3. Hubb al-dunya (cinta dunia) yang menutupi cahaya kebenaran.

Maka benar sabda Rasullullah ﷺ:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para ulama yang menyesatkan.” (HR. Ahmad, Ibn Majah).

Penolakan ulama masa kini terhadap tanda-tanda tajdid, ru’ya, dan nubuwah akhir zaman hanyalah pengulangan sejarah. Mereka menolak bukan karena tidak tahu dalilnya — tetapi karena takut kehilangan legitimasi di hadapan umat.

Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras: “Akan datang suatu masa di mana ulama mereka adalah yang paling jahat di bawah langit. Dari mereka muncul fitnah, dan kepada mereka fitnah akan kembali.” (HR. Baihaqi, Al-Khatib al-Baghdadi). Ini bukan penghinaan terhadap ulama sejati, tapi peringatan bahwa institusi keulamaan akan terkorupsi secara sistemik  sebagaimana Bani Israil sebelumnya.

 

Penulis adalah pendiri Majelis Gerakan Akhir Zaman (GAZA)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *