Bupati Mamasa Soroti Program Rehabilitasi Hutan: “Yang Dibutuhkan Pohon Tumbuh, Bukan Sekadar Ditanam”

Mamasa427 Dilihat

MAMASA, Berita12.com — Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, menyoroti efektivitas program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di wilayahnya.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan Sekolah Lapang RHL dan Agroforestry Sub-DAS Mamasa yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Jeneberang Saddang, di Aula Kantor Kecamatan Sumarorong, Jumat (22/8/2025).

Dalam sambutannya, Welem menekankan pentingnya konsistensi dalam pendampingan program. Menurutnya, masih banyak lahan tandus di Mamasa meski program rehabilitasi sudah berjalan sejak 2021.

“Setelah menanam bibit, jangan langsung ditinggalkan. Kalau mati harus diganti lagi. Yang dibutuhkan bukan berapa bibit sudah ditanam, tapi berapa pohon yang benar-benar tumbuh,” tegas Welem.

Ia juga meminta agar BP DAS Jeneberang Saddang menyusun program yang lebih terstruktur, melibatkan pemerintah dari tingkat desa hingga kabupaten. Dengan begitu, kata Welem, akan tercipta komunikasi dan konsolidasi yang jelas terkait tanggung jawab setiap pihak.

Selain itu, Bupati menyoroti soal pemilihan bibit. Menurutnya, banyak bibit yang didatangkan dari luar tidak sesuai dengan kondisi tanah di Mamasa sehingga gagal tumbuh. Ia merekomendasikan agar bibit lokal disemai dan digunakan dalam program rehabilitasi.

“Saya tidak mau Mamasa hanya dijadikan tempat membuat laporan pertanggungjawaban. Harus ada hasil nyata yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dari pihak penyelenggara, perwakilan BP DAS Jeneberang Saddang, Achmad Sudarno, memaparkan capaian program yang sudah dilakukan.

Hingga kini, pihaknya telah merehabilitasi 1.537 hektare hutan, membangun 106 unit bronjong penahan erosi, melaksanakan monitoring dan evaluasi di beberapa wilayah Sub-DAS Mamasa, serta mengembangkan bibit pohon dan penanaman bambu.

Meski begitu, Sudarno mengakui masih ada tantangan besar di lapangan. “Kendala utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat tanaman, serta ketidaksesuaian bibit dengan kondisi tanah sehingga banyak yang mati,” ungkapnya.

Program rehabilitasi hutan dan lahan di Mamasa diharapkan tidak hanya berhenti pada laporan administratif, tetapi benar-benar membawa perubahan nyata: mengembalikan lahan gundul, menghijaukan kawasan kritis, dan memperkuat daya dukung lingkungan bagi masyarakat setempat.

(Berita12)

https://www.berita12.com/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241225-WA0010-scaled.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *